Sepertinya, masih perlu menggaungkan kompetensi abad 21. Ada 4C, ada juga 6C. Guru-guru di setiap instansi pendidikan diminta untuk membangun kompetensi itu pada anak didik dengan pendekatan belajar berbasis proyek, yang dilaksanakan dengan cara menyenangkan, istilahnya Merdeka Belajar. Lalu guru-nya bagaimana? Apakah punya kompetensi itu?
Saya mau ngobrol tentang kompetensi abad 21 ini, boleh ya? Bukan karena lebih tahu, sok tahu, atau sudah punya semua ini dalam diri saya. Tapi karena saya juga mau punya 4C, 6C bahkan 12C, untuk diri saya. Daripada saya belajar sendiri, kan lebih enak kalau belajar bersama.
Dari Wikipedia saya menemukan info bahwa NEA (National Education Association) pada tahun 2002 memulai pengembangan untuk merumuskan keterampilan Abad ke-21 yang kemudian dikenal sebagai
“Kerangka Belajar Abad 21”, dengan kompetensi 4C, yaitu Critical Thinking (Berpikir Kritis), Creative (Kreatif), Collaborative (Bekerjasama), dan Communicative (Komunikasi). Lalu cari lagi di google, saya temukan 6C yang dirumuskan oleh Michael Fullan. Beliau menambahkan 2C lagi, yaitu Character (Berkarakter) dan Citizenship (Berkebangsaan).

Nah, saya mau menambahkan dengan 6C lagi: Cerdas, Cermat, Cekatan, Cakap, Cerdik, cendekia. Duh, banyak amat kompetensi nya? Lah iya… kan yang diajak kerja adalah “manusia saat ini” untuk siap menjadi “manusia masa depan”. Tugas kita tuh, gak main-main. Tapi bukan main alias dahsyat. Pekerjaan kita menanam dan membangun kompetensi-kompetensi pada anak manusia. Nah, kita sendiri bagaimana? Apa yang mau kita tanam kalau kita sendiri tidak punya bibit yang akan kita tanam? Bibit itu harusnya ada di diri kita sendiri. Ya kan? Ah malu saya… Saya juga belum punya itu semua. Tapi saya mau punya, bersamaan dengan kamu, kamu, dan kamu. Karena kamu teman saya, sama-sama guru.
Memangnya pekerjaan lain enggak membutuhkan 12C itu semua? Loh, saya enggak tahu itu. Karena saya guru, ya saya tahunya profesi guru. Yang saya alami adalah kehidupan sebagai guru, yang saya baca semua tentang guru. Jadi … semua yang mau saya obrolin ini, ya tentang Guru.
By the way… (biasanya anak jaman now menyingkatnya jadi BTW), mengapa jadi 12? Memangnya tidak ada kompetensi yang lain? Kalaupun ada, bagaimana dengan kompetensi lain yang tidak dimulai
dengan huruf C? Aha… Saya berharap kita bisa menemukan kompetensi-kompetensi lainnya itu ada di dalam kompetensi yang 12C itu. Yuk, kita cek untuk 6C yang pertama dulu.
- Cerdas.
Cerdas ini kalau berdasarkan penelitian Howard Gardner, ada 7 dan dikenal dengan Multiple Intelligence. Kecerdasan itu adalah: Linguistik (bahasa), Mathematic (matematika), (Visual Space) ruang dan visual, (Naturalis) natural, (Music) musikal, (Intrapersonal) memahami diri sendiri, (Interpersonal) memahami orang lain. Lalu Daniel Goleman menambahkan dengan cerdas emosional. Apakah kita punya semua kecerdasan itu? Atau ada berapa yang kita miliki? Kata orang, (dan saya juga menyadari itu), saya punya kecerdasan bahasa. Kata mereka, saya pandai menjalin kata-kata, merangkai kalimat, lisan maupun tulisan (tapi enggak berani alias nggak pede atau kurang percaya diri untuk dipublish. Berarti saya enggak punya kecerdasan intrapersonal, ya?). Nah, mereka juga bilang saya punya kecerdasan visual spasial, katanya karena saya mudah mengingat jalan-jalan yang pernah dilalui, membaca peta, parkir mobil, dan enggak suka nabrak-nabrak termasuk menabrakkan diri ke orang lain alias sikut-sikutan (yang terakhir agak ngawur nih). Otak kiri saya lebih dominan bekerja karena motorik kasar saya yang lebih banyak dan nyaman dipakai adalah bagian tubuh sebelah kanan (kan cara kerjanya bersilangan). Meskipun orang yang kuat dengan otak kirinya itu biasanya mudah berpikir, pandai menangkap, tapi saya agak lemah di matematika dan hitungan. Memang saya banyak berpikir dan mudah paham, tapi memikirkan dan memahami orang lain. Nah ini namanya kecerdasan interpersonal. Jadi mudah “baper” begitu… termasuk “baper” kalau melihat hewan-hewan yang diabaikan di jalan seperti kucing dan anjing. Bawaannya ingin menolong dan bawa pulang. Mereka juga mudah sekali dekat dengan saya. Kalau sudah begini, ini kaitannya dengan kecerdasan naturalis. Nah, bagian otak sebelah mana yang dominan bagi kamu? Coba diingat-ingat… Wuiih, panjang ya, ngomongin soal kecerdasan ini. Kalau kamu, cerdas apa yang ada dalam diri kamu? Bisa tanyakan ke orang lain, bisa juga dengan evaluasi diri. Coba yuk… modal kecerdasan apa yang kita punya? Kalau kamu bisa menemukan kecerdasan apa, kamu juga bisa menemukan kecerdasan yang mendominasi anak didik kita, supaya nggak salah saat memfasilitasi dan menstimulasi mereka. Andrea Hirata menulis: “Orang cerdas memahami konsekuensi setiap jawaban, dan menemukan bahwa di balik setiap jawaban tersembunyi beberapa jawaban baru”. Keren kalimatnya Andrea Hirata itu. Saya dan kamu tidak boleh berhenti untuk memahami konsekuensi setiap jawaban atas pertanyaan anak didik, tapi kita kemudian membawa anak didik menemukan jawabannya dengan pertanyaan selanjutnya. Kita tidak “menyuapi” anak dengan jawaban (apalagi yang belum tentu kebenarannya). Kita ajukan lagi pertanyaan selanjutnya, sampai kita (saya, kamu dan anak didik) sama-sama menemukan jawabannya. Asyik, kan? - Cermat.
Cermat punya kata lain yang terkait yaitu teliti, awas, ingat, selidik, acuh, seksama, akurat. Banyak ya? Mau tahu satu persatu definisi-definisinya? Bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Versi online juga ada. Tapi tanpa kamus, kenapa kita bisa paham ya? Apakah karena dari kecil terbiasa mendengar kata-kata itu? Ya, karena kita “cermat” dalam menyimak setiap kata yang diucapkan orang tua kita dan orang-orang di sekitar kita atau guru kita, sedari kita kecil. Maka itu artinya, kita sudah punya modal kompetensi ini. “Perhatian yang cermat terhadap hak-hak orang yang paling sedikit di antara kita (minoritas) adalah dosa yang dilakukan tanpa kekerasan”. (Mahatma Gandhi). Aduh, serem kata-kata bijak dari Mahatma Gandhi itu. Lalu apa kaitannya dengan kompetensi guru? Kok saya tertarik dengan kalimat itu? Hmmm.. kalau kita tidak cermat memperhatikan keberbedaan anak didik kita, lalu mengabaikan perhatian pada anak-anak yang minoritas (baik dalam hal kompetensi mereka, penampilan mereka, keluarga mereka) atau sering disebut Berkebutuhan Khusus, itu sebetulnya ….. (tahu lah ya, itu pun kalau kita meyakini adanya dosa atau karma). Tapi saya yakin. Kalau kamu, yakin apa enggak? Sebetulnya, tanpa harus ditakut-takuti dengan dosa atau karma, kita pasti punya perasaan gak tega ya, terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus. Kan mereka juga punya hak yang sama. Bagaimana rasanya kalau kita atau anak kita sendiri mengalami hal yang sama dengan mereka, lalu kita diabaikan, diasingkan, dikucilkan? Maka perasaan itulah yang harus kita tanamkan ke anak didik lainnya agar mereka peduli pada teman yang berkebutuhan khusus. Sebetulnya, mudah kok, melibatkan anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam kegiatan di lembaga kita. Tentu dengan fungsi kita sebagai pendidik bukan terapis. Kita hanya perlu meluangkan waktu untuk lebih “cermat” mengobservasi untuk menemukan potensi mereka. Nah, dari potensi itu lah kita memfasilitasi kebutuhan belajar mereka. - Cekatan.
Ada dua pengertian untuk kata cekatan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1) cepat mengerti; pintar; cerdik. 2) cepat dan mahir melakukan sesuatu; gapah; tangkas. Yes, ternyata ada di kata ini, kompetensi yang mau saya obrolin. Yang jelas, saya dan kamu harus cepat mengerti dan mahir melakukan sesuatu, sehingga dapat diandalkan. Ahay… sudah ada atau belum ya, dalam diri saya, dan kamu? Iya, saya dan kamu yang jadi guru. Kalau punya gadget baru, kamu pakai untuk apa? Kalau punya laptop, kamu pakai untuk apa? Sudah efektif atau belum pemanfaatannya untuk bantu kita mengajar dan mendidik anak-anak di sekolah? Atau kita sendiri belum mahir menggunakannya? Malu buat belajar atau takut rusak kalau salah? Ih, banyak ya, pertanyaan saya. Kepo! Kepo, ingin tahu, itu asal mula kita bisa mengerti dan cekatan melakukan sesuatu. Kemudian berani mencoba. Kalau tidak begini, ya coba dengan begitu. Kalau tidak bisa juga, nggak maluuntuk tanya pada yang lebih tahu. Jangan cuma kepo-in urusan dan barang-barang milik orang lain. Kepoin juga perkembangan anak didik. Kepoin juga hal-hal baru yang berkembang di dunia pendidikan, supaya kita nggak ketinggalan jaman. Di sinilah kekuatan kita dihimpun untuk melesatkan pengetahuan kita. “Efektifkan kekuatanmu pada titik sasaran yang besar, dengan cerdas – cermat – cekatan” (Andrie Wongso). Pak Andrie Wongso, maaf. Saya merasa belum cukup dengan tiga C itu (cerdas, cermat, cekatan) untuk mengefektifkan kekuatan saya pada titik sasaran yang besar saat saya mendidik anak-anak. Sebagai guru, saya dan teman-teman saya, butuh hal lain. Butuh C yang lain. Hehehe… - Cakap.
Cakap, bisa juga terkait dengan “bicara” atau komunikasi. Makanya muncul kata “percakapan”. Tapi “cakap” juga punya banyak pengertian. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya ini: 1) sanggup melakukan sesuatu; mampu; dapat. 2) pandai; mahir. 3) mempunyai kemampuan dan kepandaian untuk mengerjakan sesuatu. 4) bagus rupanya; cantik; rupawan. 5) bagus; elok. 6) patut; serasi, pantas. 7) tangkas; cekatan (tidak lamban). Loh, kok mirip, sama dengan “cekatan” ya? Enggak apa-apa. Saya mau fokus pada kata “patut”, “serasi”, “pantas”. Bagaimana kita bisa mematutkan diri dan menyerasikan penampilan kita sebagai guru. Tentu enggak perlu kita obrolin panjang lebar karena kita pasti tahu itu. Apalagi kita kan katanya “guru”. Berpenampilan serasi dan pantas, nggak perlu mahal-mahal dan blink-blink seperti artis kok. Apalagi gaji guru kan enggak banyak, katanya. Tapi cukup, kan? Cukup buat memantaskan diri disesuaikan dengan anggaran sendiri yang penting patut, serasi. Enggak perlu ke salon untuk perawatan kuku, karena bisa potong sendiri dan nggak perlu diwarnai. Warna rambut juga. Hihihi… mahal itu. Kecuali kalau ada yang promo, gratisan, hadiah.. Boleh lah dimanfaatkan buat perawatan. Asiknya jadi guru tuh begitu… enggak perlu modal banyak-banyak buat penampilan. Saya yakin, orang bijak akan menilai guru karena tingginya kompetensi bukan menornya kosmetik. Mereka menghargai karena handalnya kemampuan bukan mahalnya pakaian dan perhiasan. Itu namanya “inner beauty”. Kecantikan dari dalam diri. Setuju kan, kamu? Nih, kutipan pas dari puisinya W.S. Rendra: “Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan, untukmu hidupku terbuka” Apakah kepantasan ini hanya dari penampilan? Bagaimana dengan pilihan kata dan tatanan serta intonasi kalimat. Duuh… susah ya, jadi guru. Apalagi kita juga manusia biasa yang kadang ikut ‘gaul’ dengan lingkungan lainnya. Kan bisa jadi keseleo lidah lupa menggunakan kata-kata yang tepat untuk anak didik. Ah, jadi ingat kata bijaknya Mohammad Hatta dalam buku yang ditulis oleh Dr. Dasep Suryanto: “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki”. - Cerdik.
“Orang yang cerdik adalah orang yang memiliki mata untuk apa yang ada di depan kakinya” (Johann Jacob Mohr). Waduh, perlu mikir berat nih untuk memahami kalimat bijak itu. Mungkin, ini sama dengan pepatah Indonesia “semut di seberang lautan, kelihatan. Gajah di depan mata, tidak terlihat”.
Atau… Coba kita tengok Kamus Besar Bahasa Indonesia lebih dulu. Cerdik itu apa? Cerdik = cepat mengerti (tentang situasi dan sebagainya); pandai mencari dan menemukan pemecahan masalah dan sebagainya; panjang akal. Nah, saya dan kamu harus punya kompetensi ini. Jangan kalah dengan si kancil pada fabel yang sering kita bacakan ke anak. Binatang ini dikenal dengan kecerdikannya atau panjang akal. Dia tidak pernah menemukan jalan buntu. Selalu punya cara menemukan jalan keluar di setiap masalah. Jadi, umpamanya kita tidak punya sarana belajar yang mewah buatan pabrik, maka yang ada di depan kaki kita, di lingkungan terdekat kita, itu bisa jadi sarana belajar. Cerdik, kan? Pas… dengan kalimat bijak Johann Jacob Mohr itu. Jadi, dengan kecerdikan kita, sebagai guru, kita bisa ‘menyulap’ bahan apapun yang ada di lingkungan terdekat dengan sekolah. Bahan alam atau bahan daur ulang, menjadi media belajar anak didik kita. Masih ingat kan, waktu kecil kita juga banyak menggunakan bahan alam untuk mainnya kita? Kita pakai pecahan genting untuk bikin uang-uangan, kita bikin kue-kue-an dari tanah dan pasir, kita bikin gubuk dari kayu, ranting, daun dan selendang ibu. Ahh.. banyak lagi lah ya. Mengapa kecerdikan masa kanak-kanak kita dulu, tidak kita manfaatkan sekarang untuk mengajak anak didik bermain? - Cendekia.
Kapan ya, saya mulai mendengar kata “cendekia” ini. Mungkin dulu, saat dibentuknya sebuah organisasi yang isinya orang-orang pintar dan ilmuwan. Kita tengok yuk, di Kamus Besar Bahasa Indonesia, apa artinya cendekia. 1) tajam pikiran; lekas mengerti (kalau diberi tahu sesuatu); cerdas; pandai; 2) cepat mengerti situasi dan pandai mencari jalan keluar (pandai menggunakan kesempatan); cerdik; 3) terpelajar. Nah, cendekia nyaris mirip dengan cerdik. Tapi yang nomor tiga itu… yang paling sering kita dengar kaitannya dengan kata cendekia. Iya kan? Setidaknya, kita bisa menampilkan diri sebagai orang “terpelajar” lah ya. Orang terpelajar itu, ya yang mau belajar. Dan belajar itu terjadi jika ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Kecendekiaan guru PAUD itu akan terlihat ketika memberikan dukungan pada anak . Ketika bercakap-cakap dengan anak. Ketika membuat, menyiapkan dan menata lingkungan main bagi anak didik, ketika menciptakan lagu-lagu, ketika membacakan buku dan mendongeng, atau saat berinteraksi dengan orang tua anak didik dan pihak lain yang berhubungan dengan kegiatan di PAUD. Andrea Hirata juga menulis; “Darinya, aku mengambil filosofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan”. Jadi, kalau saya dan kamu sudah ikuti banyak kegiatan pembelajaran dan pelatihan, lalu kamu tidak melakukan perubahan karena “terpuruk” pada pandangan orang lain yang belum belajar dan belum tahu apa yang kamu ketahui dari kegiatan itu, atau ketakutan untuk dikucilkan, lalu.. Apa bedanya kamu dengan dia? Di mana kecendekiaan mu? Saya dan juga kamu, pasti ingin juga disebut cendekiawan, kan? Pramoedya Ananta Toer, menggunakan kata Cendekia pada tulisannya, begini: “Orang Cendekia sudah harus adil sejak dari pikiran”. Wow… dahsyat. “Adil dalam pikiran”. Terbayang, kalau kita pun sudah ‘adil dalam pikiran’. Sehingga ketika merencanakan kegiatan kita memikirkan bagaimana kegiatan kita itu adil terhadap keberbedaan setiap anak. Ketika kita berinteraksi dengan anak, teman sejawat, orang tua dan wali murid, kita juga adil dalam bertindak. Kemudian ketika mengevaluasi anak didik, kita adil dalam menilai setiap perkembangan mereka. Ya, semua didasari oleh hadirnya keadilan dalam pikiran kita. Tidak akan ada yang tersisihkan, terasingkan, tersakiti. Semua akan merasa dihargai! Saya juga menghargai kamu sebagai teman sejawat. Sebab saya percaya, merasa dihargai jauh lebih penting ada sebelum kita mempelajari pengetahuan tentang apapun. Dari sini, muncullah tindakan yang “BIJAK”. - Critical thinking.
Berpikir kritis, itu seperti apa wujudnya? Bagaimana cara mengungkapkannya ya? Harus hati-hati. Sebab pemikiran kritis jika tidak diungkapkan dengan hati-hati pada waktu yang tepat bisa jadi seperti boomerang. Akan kembali kepada diri sendiri. Jangan sampai “memercik air di dulang, terciprat muka sendiri”. Loh, apakah sama berpikir kritis dengan mengkritik? Menurut kamu bagaimana? Nah saya mulai mengajak kamu untuk berpikir kritis nih. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi. Itu ciri kita sudah sampai pada kompetensi berpikir kritis. Yuk kita cari tahu, apakah berpikir kritis sama dengan senang mengkritik? Kamu ingat tidak, dulu kalau kita banyak bertanya, kita dimusuhi teman dan dimarahi guru. Atau dipelototin ibu di rumah. Atau takut dianggap bodoh. Jadinya kita lebih banyak diam. Bungkam. Membuntukan pikiran. Tak acuh pada pelajaran. Tapi itu dulu…. Pendidikan sekarang tidak begitu lagi. Semakin anak bertanya, semakin kritis berpikirnya, semakin besar rasa ingin tahunya, semakin banyak ia belajar. Saya suka dengan tulisan Adam Savage terkait berpikir kritis ini: “Ini semacam sikap mental tentang pemikiran kritis dan keingintahuan. Ini tentang pola pikir memandang dunia dengan cara yang menyenangkan, penuh rasa ingin tahu, dan kreatif”. Ternyata benar, berpikir kritis (Critical Thinking) dengan rasa ingin tahu (Curiosity) enggak berjarak jauh. Mereka berdua saling berdekatan. Eh, ada C juga itu pada kata Curious. Anggap aja ya, satu kesatuan. Maka wajar jika muncullah banyak pertanyaan akibat rasa ingin tahu, dan itulah disebut berpikir kritis. Lalu, bagaimana dengan mengkritik? Kamus Umum Bahasa Indonesia mendefinisikan kritik sebagai kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Jadi, kritik itu hasil dari berpikir kritis. Berpikir kritis itu diawali oleh rasa ingin tahu. Nah, kalau saya menyampaikan hasil pemikiran kritis tentang pendapat saya terhadap kamu dengan pertimbangan baik dan buruk, itu artinya saya sedang mengkritik kamu. Repotnya, kalau kamu enggak bisa menerima kritikan saya itu. Kan jadi rusak hubungan kita. Atau kritikan saya itu justru ada juga di dalam diri saya. Kan jadi seperti bumerang. Bunuh diri namanya. Hihihi… makanya, harus kembali lagi ke berpikir kritis. Sudah lengkap atau belum analisanya. Penting atau tidak, membiasakan anak didik berpikir kritis dengan cara memunculkan rasa ingin tahu, kemudian menjawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan lagi? Atau lebih kita membungkam mereka dengan menyuapi informasi dan memberi tahu jawabannya? Kalau saya, senang menjawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan lagi. Karena belum tentu juga saya tahu segalanya. Kan saya bukan tuhan yang maha mengetahui. Lagi pula, kami bisa sama-sama belajar jadinya. Anak didik saya belajar, saya juga belajar. Akhirnya tumbuh budaya belajar sepanjang hayat. Kalau mereka terus disuapi, ketika mereka butuh pengetahuan sementara yang biasa menyuapi tidak ada, terus mereka pasif, saya khawatir mereka menjadi manusia yang gagal. Kan dulu kita juga dibungkam? Toh sekarang kita juga tetap mau belajar. Iya, tapi nggak maksimal. Ada banyak di luar lingkungan kita, orang-orang hebat, lebih hebat dari kita. Dan cara belajar mereka dulu, nggak sama dengan kita. Nah, saya ingin anak didik saya lebih hebat dari saya, setidaknya bisa seperti mereka yang hebat. Terbayang nggak, saat menggunakan gadget, atau apapun yang dibuat manusia dengan teknologi canggihnya, bagaimana mereka bisa menciptakan itu? Saya, mungkin juga kamu, sekarang ini hanya menjadi ‘pengguna’ atau user. Dan saya nggak mau, anak didik saya sebatas itu saja. Bukan hanya sebagai “user” apalagi jadi “looser”. Dunia yang akan mereka hadapi nanti, jauh lebih hebat daripada kita saat ini. Ah.. nggak mau. Kalau kamu bagaimana? Loris Malaguzzi menulis puisi berjudul “A Hundred Language of Children” (googling sendiri ya.. banyak kok) yang berkali-kali saya baca, dan setiap kali saya membacanya, hati saya menangis. Karena selama ini yang saya (mungkin kamu juga) lakukan adalah memisahkan tubuh dari kepala anak didik. Tubuh mereka bekerja, tangan mereka menyusun huruf-huruf, menggunting, menempel, mencetak, meronce, menggambar, melukis, dan lain-lain atas arahan kita yang juga diarahkan oleh silabus . Kita tidak pernah mengajak mereka ‘memikirkannya”. Kita membuat mereka hanya menjadi pekerja seperti robot yang tidak perlu berpikir keras. Kita memisahkan tubuh mereka dengan kepala mereka. Kita meminjamkan kepala kita pada tubuh mereka. Saya merasa betapa berdosanya saya. Bagaimana dengan kamu? - Creative.
Woow.. saya paling ‘gemes’ dan bersemangat kalau ngobrol soal ini. Nyambung dengan bagian akhir dari Critical Thinking. Saya enggak mau, anak-anak didik kita hanya menjadi ‘user’ apalagi
‘looser’. Dan bekal mereka bukan hanya keinginan mencari tahu dan keberanian untuk bertanya. Mereka juga butuh kreativitas! Bukan cuma mereka, saat ini, saya dan kamu juga butuh kreativitas, kan? Duh, bagaimana rasanya hidup tanpa kreatifitas ya? Bahkan hanya sebatang tusuk gigi pun adalah wujud adanya kreativitas untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Pastinya, bicara tentang kreativitas ini akan jadi panjang, apalagi bagi Guru PAUD. Julian F. Fleron seorang profesor Matematika, menulis kata bijak yang sangat dikenal oleh para pekerja kreatif, (saya kutip meskipun saya tidak dapat menemukan sumber aslinya, saya temukan lewat bantuan google) menyatakan tentang kreativitas seperti ini, “Orang dewasa yang kreatif adalah anak yang telah selamat”. Menarik! Artinya, orang dewasa itu menjadi kreatif karena masa kecilnya terselamatkan. Maka saya dan kamu ada baiknya menyelamatkan anak-anak didik sekarang dari rasa takut untuk melakukan hal-hal yang tidak sama seperti yang kita minta, kita harus memberi ruang bagi mereka untuk menggunakan gagasan mereka sendiri dalam berkarya, begitulah akhirnya mereka merasa dihargai atas setiap karya yang mereka ciptakan. Kalau kita masuk ke dalam dunia anak, maka upaya dan usaha mereka dalam berkarya itu jauh lebih penting untuk dihargai daripada menilai hasilnya secara subyektif. Saya senang sekali masuk ke dalam pikiran anak (bukan hanya mengamati) ketika anak berkarya dengan apapun benda yang mereka dapatkan. Saya menemukan betapa setiap sel-sel otak mereka bekerja, setiap sinap berpendar seperti aliran listrik, ketika mereka mulai merancang akan membuat apa dengan benda yang ada di tangannya. Atau ketika mereka merencanakan akan membuat sesuatu dan menggunakan benda yang ada dalam jangkauannya. Lalu saya keluar sebentar dari pikiran mereka untuk menanyakan “selanjutnya, apa yang akan kamu lakukan dengan benda itu?”. Saya melihat ke dalam mata mereka, ada binar yang menyatakan “aku tahu”. Lalu saya biarkan mereka bekerja. Pada akhirnya, saya ucapkan “hebat”, “bagus sekali ide kamu”, saat itu saya melihat aura perasaan mereka yang memancarkan cahaya “terima kasih ibu guru, karyaku dihargai”. Sesederhana itu yang saya, atau mungkin kamu lakukan, temanku. Tak perlu rumit, tak perlu berbelit. Biarlah jaringan-jaringan otak mereka tumbuh makin rimbun akibat derasnya pikiran mereka bekerja. Sama seperti ketika saya memikirkan banyak hal, memikirkan apa yang akan saya lakukan (merencanakan) dan membuat sesuatu secara kreatif. Perut saya sering cepat merasa lapar kalau saya sedang memikirkan banyak hal. Itu artinya otak saya sedang bekerja keras. Jadi, saya pikir, anak-anak juga seperti itu. Semakin banyak mereka diberi kesempatan untuk berkreasi, semakin banyak otaknya bekerja. Jika saya dan kamu hanya perlu memfasilitasi dengan berbagai benda, kemudian memberi kesempatan anak untuk berkarya, lalu kreatifnya kita sebagai guru di mana diperlukannya, ya? Saya mungkin tak se-kreatif kamu dalam mendekorasi ruang kelas agar nyaman buat anak didik. Kalau sudah kehabisan akal dan ide kreatif, biasanya saya kembali “masuk ke dalam kehidupan anak-anak”, agar tahu apa yang mereka perlukan. Kemudian dari sana saya menemukan, bahwa benda apapun yang ada di sekitar mereka, bisa jadi bahan belajar buat mereka. Suatu hari, saya berinteraksi dengan seorang anak laki. Ia mendapatkan sebuah botol plastik bekas minum, bisa jadi dalam imajinasinya botol itu akan terbentuk seperti ular, maka ia tambahkan tali dan pita yang dililit, ia tempelkan pula dua manik-manik dan sedotan pada tutupnya, dipasangnya tali yang lebih panjang untuk ditarik. Proses menjadikan botol plastik menjadi bentuk ular naga, itulah ‘belajar’-nya. Ia merencanakan, merancang, mengukur berapa panjang tali dan pita yang dibutuhkan, melilitkannya, mengikatnya, menentukan di mana titik penanda mata. Semua itu adalah proses belajar.
Anak-anak juga tidak memerlukan banyak hiasan di ruang kelas mereka, karena akan membuat mereka ‘pusing melihatnya’, tidak perlu warna warni yang fancy karena membuat fokus belajar mereka distorsi. Sederhana, yang penting nyaman dan berguna. Mereka pasti perlu informasi untuk membantu mengingat, tapi tak perlu banyak-banyak. Itu akan membuat mereka muak. Jadi, kreatifnya kita sebagai guru adalah ketika kita mampu menciptakan ruang belajar bagi anak didik sesuai kebutuhan mereka dengan kreatifitas kita dalam menggambar, melipat, kolase, dan sebagainya. Memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk anak didik mendekorasi ‘pikiran’ mereka sendiri, itu adalah wujud kreativitas guru, menurut saya. O iya, “ruang belajar” itu, bukan hanya terbatas pada 4 dinding dengan 1 pintu. Ia bisa jadi ruang tanpa dinding dan tanpa pintu, dan di sanalah segala pengetahuan dan kreativitas akan berkembang lebih luas. Kita pernah terkungkung pada pemahaman bahwa “belajar” itu duduk manis di belakang meja dalam suatu ruangan. Kita lupa, bahwa kita pernah belajar tanpa sengaja di bawah pohon ketika menemukan semut yang saling bersalaman saat bertemu atau melihat daun yang jatuh, lalu kita membuat mahkota dari rangkaian daun waktu kita kecil dulu. Jadi, mengapa tidak kita lakukan itu lagi ketika kita menjadi guru? - Collaborative.
Teman saya, Ayu Pandawani bercerita kepada saya: Ketika beberapa anak main di halaman dan menemukan sebatang ranting tua, lalu mereka berlari ke kelas dengan membawa ranting itu, sambil berkata “kami akan bikin ogoh-ogoh”. Apa yang akan saya lakukan sebagai guru mereka? Karena saat itu saya belum terpikir “bagaimana sebatang ranting kayu bisa menjadi ogoh-ogoh”. Kemudian saya menanyakan “bagaimana caranya?”, “apa yang kalian perlukan?”, dan seterusnya, saya memfasilitasi benda-benda lain yang mereka perlukan, lalu saya biarkan mereka bekerja bersama-sama. Saya larut dalam pikiran mereka. Apapun hasilnya, jika menurut mereka itu adalah ‘ogoh-ogoh’, karena saya telah masuk ke dalam pikiran mereka, maka yang terlontar dari mulut saya adalah “hebat, kalian berhasil bekerja sama membuat ogoh-ogoh”. Cerita ibu Panda itu menginspirasi saya, bahwa yang ditekankan adalah “kerjasama” (dalam membuat ogoh-ogoh).
Itulah “Kolaborasi”. Bagaimana saya, kamu, dan kamu, sebagai guru mewujudkan kolaborasi? Inginnya kerja sendiri, supaya kelihatan hasilnya sebagai karya sendiri, dan mendapat pujian untuk sendiri. Haaa.. ada banyak kata “sendiri”. Itu namanya masih ‘ego sentris’. Orientasi kita masih pada pujian. Bukan pada ‘karya’ dan ‘kebersamaan’. Saya terpesona ketika menonton video bagaimana seorang Helen Keller yang buta, tuli dan bisu belajar bicara, hingga akhirnya bisa berbicara dan menginspirasi dunia dengan kalimat bijaknya yang terkenal, “Sendiri, kita hanya bisa melakukan begitu sedikit; bersama kita bisa melakukan banyak hal”. Nonton videonya ya, di channel Hellen Keller https://youtu.be/KLqyKeMQfmY . O iya, saya yakin, beliau pasti menuliskan kalimat itu berdasarkan pengalaman pribadinya. Bayangkan bagaimana ia yang buta, tuli dan bisu bisa berbicara. Itu karena adanya kerjasama! Sementara kita dibutakan, ditulikan dan dibisukan karena egoisme kita. Karena kegilaan kita atas pujian. Hingga mabuk sendirian. Ah, saya tidak perlu ngomong banyak tentang ini, karena saya tahu kamu juga pasti paham ke mana arahnya. Di mana perlunya kita sebagai guru berkolaborasi dengan siapa pun, kamu juga pasti tahu. Dan saya yakin, “pujian akan lebih nikmat dirasakan jika dirayakan bersama-sama dan tidak akan memabukkan”. Berkolaborasi dengan orang tua anak didik saat kita membutuhkan banyak bahan buat anak bermain, berkolaborasi dengan teman sejawat saat membuat perencanaan pembelajaran dan penilaian perkembangan anak. Semua kita lakukan sebagai pendidik PAUD. Bersama, kita bisa melakukan banyak hal. - Communicative.
Tadi kita bicara tentang kolaborasi mengambil inspirasi dari Hellen Keller yang “buta”, “tuli” dan “bisu”. Tapi beliau ingin ‘mengomunikasikan’ menyampaikan isi hati dan pikirannya. Dorongan yang kuat untuk belajar ‘bicara’, karena ‘komunikasi’ itu penting. Bayangkan ia hidup dalam kegelapan dan kesunyian tapi ia merasakan ada kehidupan di sekitarnya. Ketika bertemu dengan teman-teman guru dan mereka menyatakan bahwa teman-teman saya itu tidak lagi meminta anak untuk duduk manis, tangan dilipat di atas meja, mata dibuka, telinga dibuka dan mulut dikunci. Itu dulu… kata mereka. Kamu juga kan? Bagaimana mungkin anak yang dianugerahi keutuhan panca indera kita paksa untuk belajar tanpa menggunakan panca indera nya? Bagi kita, orang dewasa, akan lebih mudah berkomunikasi karena kita sudah mampu menuliskannya, sudah punya banyak kosa kata untuk mengungkapkan ide dan gagasan serta impian-impian kita. Tapi bagi anak yang belum mampu menulis, maka berkata-kata adalah jalan pertama, jalan kedua adalah menggambar atau melukiskan-nya. Dan ternyata, saat bermain pun mereka mengekspresikan perasaannya. Suatu hari, saya berinteraksi dengan seorang anak perempuan yang bermain dengan balok-balok dibentuk segi empat. Di dalam segi empat itu, ada tiga balok bentuk silinder yang ditidurkan. Katanya itu mama, papa dan aku. Saya katakan padanya “masih tidur bersama mama papa ya? Belum berani tidur sendiri?” Dia pun mengiyakan. Minggu berikutnya ia melakukan hal yang sama, tetapi satu balok silinder diletakkan di luar kotak segi empat. Saya katakan “wah, hebat sekarang sudah berani tidur sendiri”. Tapi ternyata dugaan saya salah. Ia menjawab “enggak, ini papa ku, tidur di luar, lagi marahan sama mama”. Haa.. bukti bahwa anak merekam segala peristiwa dan mengekspresikannya dengan berbagai cara! Saya senang, ketika di dekat anak-anak yang sedang asyik belajar, berkarya, bekerja dengan berbagai aktivitasnya mereka berceloteh, bercakap-cakap satu dengan lainnya, bertanya jawab, mengeluarkan pendapat, kadang-kadang saling menentang, memunculkan egonya, tapi sebentar kemudian saling memaafkan dan melupakan, lalu asyik lagi bekerja bersama lagi. Bagaimana dengan kamu dan saya? Sepertinya kita harus kembali belajar seperti dunianya anak-anak, ya… “Saya pikir agar hubungan apa pun akan berhasil, perlu ada komunikasi, penghargaan, dan pengertian yang saling mengasihi”. Itu kalimat bijak dari Miranda Kerr. Bukan kata saya. Menurut kamu, ada benarnya juga, atau tidak?. Kamu pernah mengalami ketidakberhasilan hubungan dengan teman, relasi, atau keluarga? Mungkin ada salah satu unsur itu yang terabaikan. Bagi saya, kalimat bijak itu berhubungan dengan ketrampilan komunikasi saya sebagai guru. Dulu, pertama kali jadi guru preschool dan diminta untuk membacakan buku cerita, saya gugup dan enggak tau harus bagaimana ketika anak-anak terlihat tidak memperhatikan buku yang saya bacakan. Tapi lama-lama, semakin saya memahami karakter anak, semakin saya lebih percaya diri, dan semakin paham tentang isi buku yang akan saya bacakan, saat saya membacakan buku, gaya baca saya jauh berbeda. Saya jadi lebih ekspresif, penuh perasaan, dan bisa melibatkan anak sehingga mereka antusias menyimak bacaan cerita saya sampai tuntas. Kami duduk bersama dalam posisi sejajar atau saya duduk lebih tinggi sedikit sehingga anak-anak cukup dapat melihat buku yang saya baca, dan tentunya buku itu menghadap ke Arah anak-anak. Posisi ini membuat anak juga merasa dihargai dan dimengerti keberadaannya. Kadang saya meminta anak untuk bergiliran memilih buku yang akan kita baca. Itu, setiap hari kami lakukan sebelum pulang. Membacakan buku akhrinya menjadi satu kegiatan menarik yang ditunggu anak sebelum mereka pulang. Jadi, membangun hubungan dengan anak diperlukan sebelum kita bercerita atau melakukan kegiatan apapun dengan mereka. Dan hubungan itu akan berhasil jika ada komunikasi, penghargaan dan pengertian yang saling mengasihi. Ketrampilan komunikasi guru PAUD diperlukan juga saat berinteraksi dengan orang tua murid. Kan kita kadang ditanya oleh orang tua “Bu guru, anak saya tadi belajar apa ya? Kok sepertinya ‘main-main’ saja”? Nah, kita musti bisa menjawab dengan lugas sehingga bisa dipahami dengan mudah oleh orang tua itu kan? Bisa saja kita ajak orang tua yang bertanya itu duduk bersama dan membuka kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah, di mana di dalamnya ada Prinsip Pembelajaran PAUD yang pertama adalah Belajar Melalui Bermain, lalu kita jelaskan bahwa saat anak main, ia mengembangkan banyak sekali kompetesi. dan itulah ‘belajar’nya anak yang kita lihat ‘bermain’. Kita juga perlu berkomunikasi dengan baik saat kita membutuhkan pihak instansi lain untuk bekerjasama dalam upaya melaksanakan pembelajaran dan pengembangan PAUD kita. Misalnya saat bekerjasama dengan bidan di puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan anak setiap bulan, atau bekerjasama dengan dinas sosial untuk pemberian makanan sehat tambahan bagi anak didik kita. Komunikasi bukan hanya dalam bentuk Bahasa lisan kan? Tapi juga dalam Bahasa tulis, termasuk cerita dan lagu atau Bahasa Non-Verbal. Kita juga bisa memanfaatkan ketrampilan komunikasi nonverbal untuk menciptakan lagu atau buku cerita sendiri. Karena kita lebih paham kebutuhan belajar mereka, maka tentunya lagu-lagu ciptaan kita sendiri akan jauh lebih bermanfaat dan komunikatif bagi anak didik kita. - Character.
Karakter itu, apa ya? Karakter yang bagaimana yang ingin saya atau kamu ingin miliki supaya bisa ditanamkan ke anak didik kita? Teman saya yang muslim mengambil karakter-karakter baik dengan meneladani para nabi dan sahabat-sahabat beliau. Teman saya yang nasrani tentu meneladani karakter Yesus dan pengikutNYA. Teman saya yang Budha meneladani Sang Pencerah, Siddharta Buddha Gautama, dan teman saya yang Hindu, menerapkan 4 sikap utama yang disebut Catur Paramitha. Dari manapun teladan itu, sah-sah saja yang mana yang akan kita, saya atau kamu, akan tanamkan dan terapkan pada diri kita lebih dulu, sebelum kita ‘mentransfer’ nya ke anak didik. Iya kan? Tidak mudah memang, tapi mengapa tidak kita coba dulu? Saya suka dengan kalimat bijak dari Cassandra Clare ini: “Apapun yang Anda miliki secara fisik … pria atau wanita, kuat atau lemah, sakit atau sehat – semua hal itu kurang penting dari apa yang dikandung hati Anda. Jika Anda memiliki jiwa seorang pejuang, Anda adalah seorang pejuang. Semua hal-hal lain, itu ibarat kaca yang berisi lampu, tetapi Anda adalah cahaya di dalamnya”. Temanku, yuk kita jadi cahaya, yang menerangi sekitar. Biarkan gelap menjadi bagian terdalam pada diri kita yang tidak seorang pun boleh tahu. Itu menurut saya. Karena karakter kita akan terpancar dari cahaya itu. - Citizenship.
Berbagai pelosok daerah di di Indonesia hingga perbatasan negara telah saya kunjungi. Rasa kebangsaan saya menjadi lebih kuat karenanya. Mungkin ada benarnya kata nenek saya dulu “semakin banyak berjalan, semakin banyak manusia yang kamu temui, dari sana kamu akan semakin banyak belajar”. Bagi saya, rasa kebangsaan itu bukan diperoleh dari buku pelajaran semata. Buku-buku sejarah memang punya andil juga untuk kita memahami betapa hebatnya orang-orang terdahulu yang memperjuangkan berdirinya sebuah bangsa dan bagaimana mempertahankannya. Tapi perjalanan menjelajahinya, adalah pengalaman nyata yang memperkuat alasan hadirnya rasa kebangsaan itu. Apalagi kalau datang ke obyek wisata situs- situs bersejarah seperti candi-candi. Saya akan terheran-heran dan terbengong-bengong lama, karena membayangkan bagaimana orang jaman dulu membangun itu. Lalu, apakah kita semua harus pergi jalan-jalan, begitu? Mungkin perjalanan itu tidak harus dilakukan secara fisik. Perjalanan non-fisik, berhubungan dengan teman-teman lain di berbagai daerah di dunia maya, tentu bisa juga dilakukan. Menjelajahi Indonesia melalui layar kaca, akan membantu meyakinkan diri kita, bahwa betapa hebatnya bangsa kita. Sampai rasa bangga menjadi bagian darinya itu hadir merasuki jiwa kita. Tidak menutup kemungkinan kita akan menemukan celah-celah kecil, noda hitam di antara indahnya rasa kebangsaan itu, lalu sebentar kita menengok ke lain bangsa. Enggak ada salahnya, sepanjang tidak membuat kita beralih dan mengalihkan kebangsaan kita. Toh kita menyadari, “tidak ada gading yang tak retak”. Pernahkah kamu merasakan hal yang sama saya rasakan, setiap kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta lagu-lagu nasional lainnya, hati kamu tersentuh hingga ingin menangis? Itu yang saya rasakan. Dulu, setiap kali memulai pelajaran di sekolah, saya dan teman- teman diajak guru menyanyikan satu lagu nasional, dan lagu Indonesia Raya setiap upacara bendera. Setiap nonton di bioskop bahkan di bioskop terbuka alias layar tancep, juga diawali dengan meminta pengunjung berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setiap tv dan radio memulai siaran, juga ada lagu Indonesia Raya. Kamu mengalami masa itu juga kah? Lalu kemudian kebiasaan itu hilang. Hingga akhirnya saya tersadar, ketika di India saya nonton di bioskop, orang-orang berdiri menyanyikan lagu nasional India sebelum film diputar. Kenapa di Indonesia tidak ada lagi? Belakangan, akhir-akhir ini, kebiasaan itu dihidupkan lagi. Syukurlah… BTW, saya masih bisa menikmati masa orientasi mahasiswa dengan Penataran P4 selama 100 jam juga. Kalau kamu, bagaimana? Saya merasakan jauh lebih kuatnya kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, justru ketika berada di negara lain. Ketika suatu hari saya merayakan hari kemerdekaan dengan sederhana dan khidmat, saya dan teman-teman menyanyikan lagu Indonesia Raya, di negeri Kanguru. Kami benar-benar menangis! Atau ketika saya melakukan perjalanan dari India ke Nepal, awalnya saya dikira orang Nepal, tapi kemudian mereka menyadari saya bukan orang Nepal, dan tanya ke saya dari mana, dengan bangga saya menjawab “Indonesia”. Mengutip lagi kata bijak Mahatma Gandhi: “Pendidikan dalam pengertian kewarganegaraan adalah urusan jangka pendek jika kita jujur dan sungguh-sungguh”. Jadi, menanamkan rasa bangga atas kebangsaan itu, tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, apalagi jika hanya dilakukan pada pembelajaran di bangku sekolah. Kita harus mengalami, menerima sepenuh hati, membuka mata hati, melihat lebih luas dan berjalan lebih jauh, terlibat, berinteraksi dan merasakan bagaimana menjadi bagian dari suatu warga negara. Yakin deh, sehebat apapun negara lain, senyaman apapun kehidupan di sana, negara kita pasti akan selalu kita rindukan. Kampung halaman akan selalu jadi kenangan. Ketika berinteraksi dengan anak-anak didik, saya paling senang melihat mata mereka berbinar ketika mendengarkan kisah-kisah kehidupan masa kecil saya. Bukan hanya kisah kekonyolan dan kelucuan masa kanak-kanak. Kadang saya juga bercerita tentang kehidupan para tokoh bangsa dan menyebutkan betapa bangganya saya menjadi bangsa Indonesia. Menunjukkan pada mereka gambar-gambar keindahan dan kekayaan alam Indonesia di sana sini. Hutan, laut, gunung, yang mungkin tidak selengkap itu dimiliki bangsa lain. Ketika ada kunjungan teman-teman guru dari berbagai daerah, anak-anak juga berinteraksi engan mereka, dan mereka menyadari bahwa ada banyak ragam adat dan budaya serta karakter orang sesama bangsa Indonesia. Keunikan yang membanggakan. “Dalam setiap perjalanan, saya menemukan banyak perbedaan, tapi yang terlihat di mata saya itu adalah keindahan, sehingga yang mencolok mata saya adalah persamaan”.
Salam, Dian Anshoriah
Referensi:
- NEA (National Education Association), “Preparing 21st Century
Students for a Global Society; An Educator’s Guide to the Four
Cs” (http://www.nea.org/tools/52217.htm) - Michael Fullan, “Education Plus”.
- Howard Gardner, “Multiple Intelligence”.
- Daniel Golleman, “Emotional Intelligence”.
- Andrea Hirata, “Laskar Pelangi”.
- Andrea Hirata, “Cinta Dalam Gelas”.
- Mahatma Gandhi, “Epigrams from Gandhiji”.
- Andrie Wongso, “andriewongso.com”
- W.S. Rendra, “Nota Bene: Aku Kangen”.
- Adam Savage, “Stay Curious with Jamie and Adam of
Mythbusters”. - Loris Malaguzzi, “A Hundred Language of Children”.
- Julian F. Fleron,
- Johann Jacob Mohr, “Gedanken über Leben und Kunst”.
- Pramoedya Ananta Toer, “Bumi Manusia”.
- Miranda Kerr, “Treasure Yourself: Power Thoughts for My
Generation”. - Dasep Suryanto, “Effective Leadership Communication”.